JAKARTA — Ramadan selalu membawa cerita. Bukan hanya tentang ibadah dan tradisi, tetapi juga tentang bagaimana manusia saling menemukan dan menguatkan satu sama lain.
Di tengah kesibukan para jurnalis yang tetap bekerja tanpa mengenal waktu, sebuah momen sederhana hadir—momen ketika mereka tidak sedang mengejar berita, melainkan menerima perhatian.
Yayasan Permata Sanny Peduli bersama Yayasan Peduli Jurnalis Indonesia (YPJI) menyalurkan 100 paket sembako Lebaran kepada jurnalis di Jakarta. Tidak ada kemewahan dalam kegiatan ini, namun ada kehangatan yang terasa nyata.
Pendiri Permata Sanny Peduli, Permata Warokka, melihat bahwa kepedulian seharusnya hadir tanpa memandang profesi.
“Ramadan mengajarkan kita untuk lebih peka. Kadang yang dibutuhkan bukan sesuatu yang besar, tetapi perhatian yang tulus,” ungkapnya.
Bagi para jurnalis, kegiatan ini menjadi jeda dari rutinitas yang padat. Ketua Umum YPJI, Andi Arif, menilai bahwa momen seperti ini penting untuk menjaga rasa kebersamaan.
“Profesi ini sering membuat kita sibuk sendiri. Tapi melalui kegiatan seperti ini, kita diingatkan bahwa ada kebersamaan yang harus dijaga,” katanya.
Di lokasi pembagian, suasana tidak hanya tentang menerima bantuan. Ada obrolan ringan, tawa, dan rasa saling memahami yang jarang tercipta di tengah tekanan pekerjaan.
Sekretaris Umum YPJI, Indrawan Ibonk, menyebut bahwa hal kecil seperti ini justru membawa dampak besar.
“Yang terasa bukan hanya bantuannya, tetapi kebersamaannya. Itu yang paling penting,” ujarnya.
Tak berhenti di sana, Permata Sanny Peduli juga memperluas jangkauan kepeduliannya kepada masyarakat luas. Melalui kolaborasi dengan Scholars of Sustenance (SOS) Indonesia, sekitar 700 paket bantuan disalurkan kepada warga di Jakarta, Bekasi, Bandung, dan Tangerang.
Bantuan tersebut menyasar mereka yang menjalani Ramadan dalam keterbatasan, namun tetap berjuang memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Bagi Permata, Ramadan bukan sekadar rutinitas tahunan, tetapi momentum untuk melihat sekitar dengan lebih dalam.
“Di bulan ini, kita belajar bahwa kebahagiaan bisa hadir dari hal-hal sederhana—dari berbagi, dari peduli, dan dari hadir untuk sesama,” tuturnya.
Di tengah dunia yang bergerak cepat dan penuh tuntutan, kegiatan ini menjadi pengingat: bahwa perhatian, sekecil apa pun, tetap memiliki arti besar.
Dan mungkin, dari situlah makna Ramadan benar-benar terasa—ketika kepedulian menjadi nyata, bukan sekadar wacana.
Sumber: Yusd
Jurnalis: Romo Kefas
