Bandung – Di tengah suasana khidmat Jumat Agung 2026, pesan yang disampaikan Pdt. Ricardo RJ Palijama terasa lebih tajam dari sekadar ucapan seremonial. Dalam wawancara eksklusif bersama tim media, ia menekankan bahwa Jumat Agung seharusnya menjadi momentum perubahan hidup yang nyata, bukan sekadar tradisi tahunan.
Sebagai Ketua Badan Musyawarah Gereja Misi Injili (GMI) dan Sekretaris PW PGLII Provinsi Jawa Barat, Pdt. Ricardo berbicara lugas mengenai kondisi iman umat saat ini. Menurutnya, banyak orang masih berhenti pada peringatan, namun belum masuk pada penghayatan.
“Sering kali kita hanya mengenang salib, tapi lupa memaknai pengorbanannya. Padahal Jumat Agung adalah panggilan untuk berubah, bukan sekadar diingat,” ujarnya.
Ia menegaskan, inti dari Jumat Agung adalah kasih yang berkorban—kasih yang tidak menuntut balasan, namun justru memberi pengampunan. Nilai inilah yang menurutnya semakin relevan di tengah kehidupan modern yang penuh tekanan, konflik, dan egoisme.
Dalam wawancara tersebut, Pdt. Ricardo juga menyoroti pentingnya peran keluarga dalam menjaga api iman tetap hidup. Ia menyebut keluarga sebagai “altar pertama” tempat nilai kasih, pengorbanan, dan pengampunan diajarkan secara nyata.
“Kalau kasih Kristus hidup dalam keluarga, maka dampaknya akan meluas ke gereja dan masyarakat. Tapi kalau keluarga rapuh, iman juga akan mudah goyah,” katanya dengan nada serius.
Lebih jauh, ia mengajak umat untuk tidak terjebak pada simbol, melainkan masuk dalam makna. Baginya, salib bukan hanya lambang penderitaan, tetapi juga kemenangan kasih yang mengubah hidup manusia.
“Jumat Agung mengingatkan kita bahwa di balik penderitaan ada kasih yang menyelamatkan. Dan kasih itu harus kita hidupi setiap hari,” tegasnya.
Dalam konteks pelayanan, Pdt. Ricardo juga menyinggung pentingnya gereja untuk tetap relevan tanpa kehilangan esensi. Ia menilai gereja harus mampu menjawab kebutuhan zaman, namun tetap berakar pada kebenaran firman Tuhan.
Menutup wawancara, ia menyampaikan harapan agar peringatan Jumat Agung tahun ini tidak berlalu begitu saja, melainkan meninggalkan jejak perubahan dalam kehidupan umat.
“Kalau setelah Jumat Agung hidup kita tidak berubah, berarti kita hanya hadir secara fisik, tapi belum benar-benar memahami maknanya,” pungkasnya.
