Sinonsayang, Minahasa Selatan — Kesabaran keluarga korban akhirnya habis. Laporan pencurian kayu yang masuk sejak 13 Oktober 2025 hingga kini belum menunjukkan kejelasan, memicu kemarahan dan tanda tanya besar di tengah masyarakat.
Lebih dari enam bulan berlalu. Tidak ada kepastian. Tidak ada progres yang transparan. Yang tersisa hanyalah pertanyaan: apakah laporan ini benar-benar ditangani?
Perwakilan keluarga korban, Jemfry Laoh, menyatakan bahwa kondisi ini sudah tidak bisa lagi ditoleransi.
“Ini bukan lagi soal lambat, ini soal keseriusan. Kalau tidak ada tindakan, kami akan bawa ini ke tingkat yang lebih tinggi,” tegasnya.
Kerugian materiil akibat pencurian kayu dinilai signifikan. Namun yang kini menjadi sorotan utama adalah potensi hilangnya rasa aman dan kepercayaan publik terhadap aparat penegak hukum.
Respons dari Kapolsek Sinonsayang yang baru menjabat—yang menyebut kasus masih dalam tahap penyelidikan—justru memperbesar tanda tanya. Publik mempertanyakan: mengapa laporan berbulan-bulan belum bergerak dari titik awal?
Apakah ada hambatan serius yang tidak disampaikan?
Atau justru terjadi pembiaran yang tak terlihat?
Tekanan publik mulai meningkat. Desakan evaluasi internal mencuat. Bahkan, wacana pelaporan ke institusi pengawas kepolisian hingga langkah hukum lanjutan mulai dibicarakan oleh pihak keluarga.
Kasus ini kini bukan lagi sekadar pencurian kayu. Ini menjadi ujian terbuka terhadap kredibilitas penanganan laporan di tingkat Polsek.
Jika dalam waktu dekat tidak ada perkembangan nyata, bukan tidak mungkin kasus ini akan meledak lebih luas—menjadi sorotan publik yang lebih besar dan berpotensi menyeret perhatian institusi di atasnya.
Satu pesan kini menguat dari masyarakat:
laporan bukan untuk diendapkan—tetapi untuk ditindak.
Dan ketika itu tidak terjadi, publik tidak akan diam.
(E. Laoh)
Editor Tim Redaksi
