Jakarta — Sebuah video lawas kembali Viral Momen Peluk Whitney Houston, Sania: “Aku Cuma Bisa Nangis Bahagia”mengguncang media sosial. Cuplikan yang viral di TikTok itu memperlihatkan momen emosional ketika Sania muda naik ke atas panggung konser Whitney Houston di Brunei pada 1996—sebuah peristiwa yang kini dikenang sebagai salah satu momen paling ikonik dalam perjalanan hidupnya.
Dalam video tersebut, Sania yang saat itu masih berusia 21 tahun tampak tak kuasa menahan haru. Alih-alih menyanyi bersama idolanya, ia justru terdiam, terpaku, lalu menangis bahagia ketika dipeluk oleh diva dunia tersebut.
“Waktu itu aku benar-benar shock. Seharusnya nyanyi bareng, tapi aku malah nggak bisa apa-apa. Cuma nangis karena bahagia banget bisa peluk Whitney,” ujar Sania saat mengenang kejadian itu, Jumat (1/05).
Starstruck di Panggung Dunia
Momen tersebut bermula ketika beberapa penonton dipilih naik ke atas panggung. Tanpa disangka, Sania termasuk yang terpilih. Namun, alih-alih tampil percaya diri, ia justru larut dalam emosi sebagai seorang penggemar sejati.
Reaksi spontan itu kini justru dipandang sebagai bukti ketulusan—bahwa bahkan seorang calon bintang besar pun bisa luluh di hadapan idolanya.
Dari Fans Menjadi Ikon R&B Indonesia
Di balik momen haru itu, tersimpan perjalanan panjang seorang Sania yang kemudian menjelma menjadi salah satu pelopor musik R&B di Indonesia. Pemilik nama lengkap Siti Tuti Susilawati Sutisna ini dikenal luas sebagai Queen of RnB Indonesia, berkat kontribusinya sejak akhir 1990-an.
Kariernya melesat lewat album debut Santai (1998), yang sukses di pasaran. Ia kemudian konsisten merilis karya seperti Bablas (2002), Terbaik (2003), hingga Cintai Aku Lagi (2006). Meski sempat vakum, Sania kembali menunjukkan eksistensinya dengan rilisan terbaru seperti Pura-pura Tidak Tahu (2023) dan karya-karya di tahun 2024.
“Musik itu selalu ada dalam hidup aku. Sekarang lebih ke menikmati dan berbagi,” ungkapnya.
Perjalanan Spiritual dan Kedewasaan Hidup
Tak hanya di dunia musik, Sania juga mengalami transformasi dalam kehidupan pribadi. Kini ia aktif dalam kegiatan spiritual, termasuk majelis manaqib Hidayatul Hikmah, sebagai bagian dari pencarian ketenangan batin.
“Sekarang aku lebih mencari ketenangan. Hidup bukan cuma soal karier, tapi juga bagaimana kita bisa dekat dengan Tuhan,” tuturnya.
Lebih dari Sekadar Nostalgia
Kembalinya video ini bukan hanya membangkitkan kenangan lama, tetapi juga memperkuat posisi Sania sebagai sosok inspiratif lintas generasi. Dari seorang penggemar yang menangis di panggung, ia tumbuh menjadi ikon musik yang tetap relevan hingga kini.
Momen pelukan itu bukan sekadar cerita masa lalu—melainkan simbol perjalanan, mimpi, dan ketulusan yang mengantarkan Sania menjadi legenda di negerinya sendiri.
Sumber: Yusd
Jurnalis: Romo Kefas
