PAMEKASAN — Kasus rokok tanpa pita cukai yang terungkap dari kecelakaan mobil box di Sampang belum juga menjawab pertanyaan paling mendasar: siapa sebenarnya yang berada di balik peredaran besar tersebut?
Pelimpahan perkara ke Bea Cukai Madura seharusnya menjadi pintu masuk pembongkaran jaringan. Namun di mata publik, fase ini justru sering menjadi titik di mana penanganan mulai kehilangan arah—dari gegap gempita penindakan menuju senyapnya proses.
Gabungan Aktivis Sosial Indonesia (GASI) menilai, kasus ini bukan sekadar pelanggaran cukai, tetapi potret apakah hukum benar-benar bekerja menyentuh aktor utama atau hanya berhenti di permukaan.
Ketua Umum GASI, Achmad Rifa’i, menyampaikan bahwa masyarakat kini tidak lagi puas dengan sekadar berita penyitaan.
“Publik tidak lagi bertanya berapa banyak yang disita. Publik bertanya: siapa pemiliknya? siapa produsennya? itu yang belum terjawab,” tegasnya.
Menurutnya, selama pertanyaan itu belum dijawab, maka penanganan kasus belum bisa disebut tuntas.
Informasi dari masyarakat pun mulai berkembang, menyebut sejumlah nama, lokasi, hingga merek seperti Dallil Bold, Just Full, dan Just Mild. Namun GASI menegaskan bahwa seluruh informasi tersebut belum memiliki dasar hukum.
“Semua itu baru informasi awal. Harus diuji, harus dibuktikan. Tapi jangan diabaikan,” kata Rifa’i.
Ia menyoroti adanya pola lama dalam penanganan kasus serupa: barang ditindak, tetapi struktur di baliknya tetap utuh.
“Kalau hanya barang yang habis, tapi jaringan tetap hidup, maka tidak ada efek jera. Ini hanya memindahkan masalah, bukan menyelesaikan,” ujarnya.
GASI menekankan pentingnya penelusuran hingga ke hulu—mulai dari produsen, pemilik merek, gudang penyimpanan, hingga jalur distribusi.
Lebih jauh, mereka mengingatkan bahwa publik kini mengawasi secara aktif. Setiap langkah aparat akan menjadi ukuran kepercayaan masyarakat terhadap penegakan hukum.
“Ini soal kredibilitas. Kalau kasus sebesar ini tidak bisa dibongkar sampai akar, maka wajar jika publik bertanya: ada apa di balik semua ini?” ucap Rifa’i.
Dalam waktu dekat, GASI berencana meminta penjelasan resmi terkait perkembangan penanganan kasus sebagai bagian dari kontrol sosial.
Kasus rokok ilegal Sampang kini tidak lagi sekadar perkara hukum—ia telah menjadi ujian terbuka tentang keberanian, transparansi, dan konsistensi penegakan hukum di hadapan publik.
Jawabannya kini ditunggu: apakah hukum akan berbicara, atau justru memilih diam.
Sumber: SH
Jurnalis: Tim Cyber
