Pas7news.com
Tidak semua rindu datang dengan tangis.
Ada yang hadir lewat hal-hal kecil—
suara piring di meja makan,
tawa yang dulu sering terdengar,
atau sekadar ingatan tentang seseorang yang selalu menyambut kita pulang.
Setiap kali musim mudik tiba, suasana itu kembali terasa.
Orang-orang berangkat, jalanan penuh, semua ingin pulang.
Dan entah kenapa, di tengah semua itu, saya juga merasakan hal yang sama.
Padahal kami tidak merayakan Lebaran.
Namun sejak dulu, setiap libur itu datang, kami selalu pulang ke Karangpandan, Karanganyar. Tepatnya di Dusun Geneng—kampung kecil yang dulu tidak pernah terasa sepi.
Di sana, hidup berjalan sederhana… tapi penuh.
Tidak ada yang dibuat-buat.
Pagi hari dimulai dengan suara orang di dapur.
Siang hari diisi dengan aktivitas biasa—keluar masuk rumah, berbincang, bercanda.
Malam hari ditutup dengan makan bersama yang selalu terasa hangat.
Semua berjalan begitu saja.
Natural.
Hidup.
Ibu dan Bapak mertua saya selalu ada di tengah semua itu.
Mereka bukan hanya orang tua.
Mereka adalah alasan kenapa rumah itu terasa seperti rumah.
Setiap kali kami datang, tidak pernah ada yang berlebihan.
Tidak ada penyambutan besar.
Tapi selalu ada rasa yang sama—diterima, ditunggu, diinginkan.
Kadang kami pergi bersama saudara, hanya sekadar keluar tanpa tujuan.
Kadang hanya duduk lama, bercerita tentang hal-hal sederhana.
Kadang makan malam biasa… tapi terasa luar biasa.
Dan waktu itu, kami menganggap semua itu biasa saja.
Sampai akhirnya… kami kehilangannya.
Tahun 2020 menjadi titik yang tidak akan pernah kami lupakan.
Sejak Bapak dan Ibu mertua kami meninggal, semuanya masih terlihat sama—
rumahnya, jalannya, kampungnya.
Tapi suasananya… hilang.
Kami masih bisa pulang.
Masih bisa duduk di tempat yang sama.
Masih bisa melihat ruang-ruang yang dulu penuh cerita.
Namun rasanya kosong.
Bukan karena tempatnya berubah,
tetapi karena tidak ada lagi yang menghidupkannya.
Tidak ada lagi suara yang sama.
Tidak ada lagi kebiasaan yang sama.
Tidak ada lagi kehangatan yang dulu selalu menyambut kami.
Dan di situlah saya mulai menyadari sesuatu yang sederhana:
Bahwa rumah bukan tentang bangunan.
Dan kampung halaman bukan tentang lokasi.
Mereka menjadi berarti karena ada kehidupan di dalamnya.
Kini, setiap musim mudik datang, perasaan itu tetap muncul.
Namun bukan lagi tentang ingin berkumpul seperti dulu.
Terkadang, kami pulang hanya untuk satu hal—
ziarah.
Datang ke makam, berdiri dalam diam, dan mencoba mengingat.
Tidak ada percakapan.
Tidak ada tawa.
Hanya kenangan yang perlahan muncul… satu per satu.
Dan justru di situlah, rindu terasa paling nyata.
Kami tidak benar-benar kehilangan kampung halaman.
Kampung itu masih ada.
Masih bisa dikunjungi.
Masih bisa dilihat.
Namun yang kami rindukan… sudah tidak lagi tinggal di sana.
Yang kami rindukan adalah kehidupan yang dulu mengisinya.
Dan kini, kampung halaman itu menjadi lebih dari sekadar tempat.
Ia adalah pengingat—
bahwa kami pernah memiliki hari-hari yang begitu sederhana,
namun begitu utuh.
Dan setiap kali kami mengingatnya, kami tahu satu hal:
Bahwa rindu tidak pernah benar-benar pergi.
Ia hanya berpindah…
dari kenyataan… menjadi kenangan.
Diceritakan oleh Romo Kefas kepada Redaksi.
