Bogor, 29 Maret 2026 — Perayaan HUT ke-103 Gereja Gerakan Pentakosta (GGP) tidak berhenti pada seremoni. Di balik rangkaian acara, muncul satu penegasan yang justru menjadi inti: gereja sedang menentukan arah, bukan sekadar merayakan usia.
Di sela-sela kegiatan, saat aktivitas masih berlangsung dan dinamika pelayanan terlihat nyata, Ketua Umum Majelis Pusat GGP, Pdt. Dicky Suwarta, M.Th, didampingi jajaran pengurus Majelis Pusat, menyampaikan kepada awak media sebuah pandangan yang bersifat mendasar.
“Kalau hanya dirayakan, akan selesai hari ini. Tapi kalau ini momentum, itu menentukan masa depan,” ujarnya.
Pernyataan ini menempatkan dua hal sebagai pusat perhatian: Buku Sejarah GGP Terkini dan Mars GGP “GGP Tetap Jaya.”
Sejarah: Sistem Nilai, Bukan Sekadar Cerita
Menurutnya, kesalahan terbesar dalam memahami sejarah adalah menganggapnya sebagai cerita masa lalu.
Padahal, sejarah adalah sistem nilai.

“Di dalam sejarah ada prinsip, ada arah, ada identitas. Itu yang harus dijaga,” tegasnya.
Buku sejarah yang diluncurkan bukan hanya mengarsipkan perjalanan, tetapi memastikan bahwa nilai-nilai yang membentuk GGP tidak terputus oleh generasi.
Mars GGP: Dari Simbol ke Energi Gerakan
Sementara itu, Mars GGP diposisikan bukan sebagai pelengkap organisasi, tetapi sebagai penggerak.
“Kalau hanya dinyanyikan, itu berhenti di suara. Tapi kalau dihidupi, itu menjadi energi gerakan,” ungkapnya.
Mars karya almarhum Pdt. Henky Benaja dilihat sebagai sarana yang menyatukan semangat, memperkuat rasa memiliki, dan menjaga kesatuan arah pelayanan.
Dua Pilar: Arah dan Daya
Ketua Umum menegaskan bahwa kedua hal ini membentuk keseimbangan yang tidak boleh dipisahkan:
- Sejarah memberi arah
- Mars memberi daya
Tanpa arah, gereja akan kehilangan tujuan.
Tanpa daya, gereja akan kehilangan kekuatan untuk bergerak.
Ujian Sebenarnya: Konsistensi, Bukan Seremoni
Ia juga mengingatkan bahwa keberhasilan acara bukan ukuran utama.
“Yang sulit bukan membuatnya. Yang sulit adalah menjaganya tetap hidup.”
Pernyataan ini menjadi kritik sekaligus pengingat—bahwa banyak hal dimulai dengan baik, tetapi tidak semua bertahan dalam konsistensi.
Usia 103: Titik Penentuan
Di usia ke-103, GGP berada pada fase yang tidak lagi hanya berbicara tentang keberadaan, tetapi tentang keteguhan arah.
Momentum ini menjadi titik penentuan:
apakah gereja akan tetap berakar kuat dan bergerak maju, atau sekadar berhenti pada simbol.
Dari Bogor, satu pesan mengemuka dengan jelas:
Bahwa gereja tidak dibangun oleh acara,
tetapi oleh nilai yang dijaga dan semangat yang dihidupi.
Dan di antara keduanya,
sejarah memberi arah,
dan mars memberi daya.
Jurnalis: Kefas Hervin Devananda
