Oleh: Kefas Hervin Devananda (Romo Kefas)
Jurnalis Pewarna Indonesia
Bogor – Di balik setiap berita yang terbit di media online independen, ada pergumulan yang sering tidak terlihat oleh publik.
Orang membaca berita dengan cepat, membagikannya di media sosial, lalu berpindah ke informasi lain. Namun jarang yang mengetahui bahwa di balik berita tersebut ada seorang jurnalis yang sedang berjuang menjaga dua hal sekaligus: kebenaran dan keberlangsungan hidup.
Dalam dunia yang ideal, jurnalisme adalah profesi yang dihargai karena perannya menjaga demokrasi. Namun dalam kenyataan, banyak jurnalis media online independen bekerja tanpa kepastian ekonomi yang memadai.
Bahkan tidak sedikit yang tidak menerima gaji tetap.
Mereka menulis berita, melakukan liputan, mengelola redaksi, dan menjalankan media yang mereka dirikan sendiri—semuanya dengan sumber daya yang sangat terbatas.
Berbeda dengan jurnalis di perusahaan media besar, jurnalis media online independen sering memikul banyak peran sekaligus.
Ia adalah reporter.
Ia adalah editor.
Ia juga pengelola medianya sendiri.
Bahkan dalam banyak kasus, ia adalah pemilik media tersebut.
Kondisi ini menciptakan sebuah realitas yang unik: seorang jurnalis yang bekerja tanpa gaji dari medianya sendiri, tetapi tetap menjalankan media tersebut karena komitmen terhadap independensi informasi.
Pilihan ini tidak selalu mudah. Sebab setiap media membutuhkan biaya operasional—domain, server, perangkat kerja, hingga kebutuhan liputan di lapangan.
Media online hidup dalam ekosistem ekonomi digital. Trafik menjadi ukuran keberhasilan. Trafik menarik iklan, dan iklan menjadi sumber pemasukan.
Namun bagi media independen, mendapatkan pemasukan tidak selalu mudah. Tanpa jaringan bisnis yang kuat, mereka harus bersaing dalam ruang digital yang didominasi media besar.
Situasi ini sering menimbulkan godaan kompromi.
Advertorial yang tidak transparan.
Judul sensasional demi klik.
Framing berita yang mengikuti kepentingan sponsor.
Semua itu bisa menjadi jalan pintas untuk bertahan secara ekonomi.
Namun bagi jurnalis yang memegang integritas, setiap kompromi terhadap kebenaran berarti mengorbankan kepercayaan publik.
Selain tekanan ekonomi, ada persoalan lain yang sering dialami jurnalis media online independen: perlakuan narasumber yang kurang menghargai.
Tidak sedikit jurnalis yang datang untuk melakukan konfirmasi atau wawancara justru diperlakukan dengan sikap yang kurang menyenangkan.
Ada yang diabaikan.
Ada yang dipandang sebelah mata karena medianya dianggap kecil.
Ada pula yang diperlakukan seolah-olah jurnalis datang untuk “meminta bantuan”, bukan menjalankan tugas profesinya.
Padahal dalam prinsip jurnalistik, hubungan antara narasumber dan jurnalis seharusnya berdiri dalam posisi yang saling menghormati.
Jurnalis tidak datang sebagai bawahan narasumber. Ia datang sebagai wakil publik yang ingin memperoleh informasi.
Ketika jurnalis tidak dihargai, sebenarnya yang tidak dihargai bukan hanya profesinya, tetapi juga hak masyarakat untuk memperoleh informasi yang benar.
Seorang jurnalis juga manusia biasa. Ia memiliki kebutuhan hidup yang nyata.
Ia harus memenuhi kebutuhan keluarga.
Ia harus memikirkan masa depan.
Ia harus bertahan dalam tekanan ekonomi yang tidak ringan.
Namun di sisi lain, ia juga harus menghadapi berbagai sikap yang kadang merendahkan profesinya.
Dalam kondisi seperti ini, seorang jurnalis independen sering harus memiliki ketahanan mental yang kuat. Ia harus mampu tetap profesional, meskipun tidak selalu mendapatkan perlakuan yang layak.
Bagi jurnalis yang memandang pekerjaannya sebagai panggilan moral, persoalan ini memiliki dimensi spiritual.
Alkitab mengingatkan:
“Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.” (Matius 4:4)
Pesan ini tidak menolak kebutuhan roti, tetapi mengingatkan bahwa kehidupan manusia tidak boleh sepenuhnya ditentukan oleh kebutuhan materi.
Dalam konteks jurnalisme, ayat ini menjadi pengingat bahwa kebenaran tidak boleh dijual hanya demi keuntungan ekonomi.
Menjadi jurnalis media online independen sering berarti memilih jalan yang tidak mudah.
Tidak ada jaminan ekonomi yang besar.
Tidak ada perlindungan finansial seperti di perusahaan media besar.
Tidak selalu mendapatkan penghargaan yang layak dari narasumber.
Namun di tengah semua keterbatasan itu, satu hal tetap menjadi kekuatan utama: kepercayaan publik.
Kepercayaan tidak bisa dibeli dengan uang. Ia dibangun melalui konsistensi dalam menjaga kebenaran.
Realitas jurnalis media online independen memang tidak mudah. Banyak dari mereka menjalankan media tanpa gaji tetap, bahkan harus membiayai sendiri operasional media yang mereka kelola.
Di saat yang sama, mereka juga sering menghadapi sikap yang kurang menghargai dari sebagian narasumber.
Namun di tengah semua itu, integritas tetap menjadi pegangan utama.
Karena pada akhirnya, jurnalisme bukan hanya soal profesi. Ia adalah tanggung jawab moral untuk menyampaikan kebenaran kepada publik.
Dan meskipun jalannya tidak selalu mudah, keberanian menjaga kebenaran selalu memiliki nilai yang jauh lebih besar daripada segala keuntungan yang bersifat sementara.
