BEKASI — Siapa sangka, di tengah bulan Ramadan yang identik dengan ketenangan, justru muncul pawai ogoh-ogoh yang riuh dan penuh api di Kota Bekasi.
Namun yang terjadi bukanlah benturan.
Yang muncul justru pemandangan langka: harmoni.
Rabu (18/3/2026), kawasan Pura Agung Tirta Buana dipenuhi arak-arakan ogoh-ogoh—patung raksasa yang melambangkan sifat buruk manusia. Wajahnya menyeramkan, geraknya mengguncang suasana, namun maknanya justru mengajak manusia untuk kembali tenang.
Ini bukan sekadar tontonan.
Ini adalah pengingat.
Bahwa setiap manusia punya “ogoh-ogoh” dalam dirinya—amarah, keserakahan, dan ego yang harus dilepaskan.
Yang membuat momen ini terasa kuat, adalah waktunya.
Di saat umat Muslim sedang menahan lapar, emosi, dan hawa nafsu dalam ibadah puasa, umat Hindu menjalani prosesi menuju Nyepi—hari hening untuk menyucikan diri.
Dua cara, satu pesan: pengendalian diri.
Wali Kota Bekasi, Tri Adhianto, hadir langsung membuka pawai tersebut. Ia melihat peristiwa ini sebagai potret nyata wajah Indonesia yang sesungguhnya.
“Kalau kita mau jujur, inilah kekuatan kita. Berbeda, tapi tetap satu ruang, satu rasa,” ungkapnya.
Tak ada penolakan. Tak ada konflik.
Warga justru memberi ruang, menjaga suasana, dan saling menghormati. Di tengah kota yang dikenal padat dan dinamis, Bekasi malam itu seperti mengirim pesan diam-diam:
bahwa damai masih ada—dan nyata.
Sebelumnya, perayaan Cap Go Meh juga berjalan meriah. Kini, Nyepi yang berdampingan dengan Ramadan semakin mempertegas identitas Bekasi sebagai kota yang hidup dalam keberagaman, bukan sekadar membicarakannya.
Peristiwa ini seolah menjadi jawaban atas banyak keraguan tentang toleransi.
Bahwa harmoni tidak lahir dari kesamaan.
Tetapi dari kesadaran untuk saling menjaga.
Dan Bekasi, malam itu, membuktikannya.
Jurnalis: Romo Kefas
