Kabupaten Tangerang — Di tempat yang baru saja dipenuhi doa, kini hanya tersisa sunyi. Rumah doa POUK Tesalonika di Teluknaga disegel aparat sesaat setelah Ibadat Jumat Agung selesai, menyisakan tanda tanya besar menjelang Paskah.
Tak ada keramaian. Tak ada ibadah lanjutan.
Hanya dinding dengan tulisan “DISEGEL” dan perlengkapan ibadah yang masih tergeletak.
Momen ini sontak menyita perhatian. Bukan hanya karena penyegelan itu sendiri, tetapi karena waktunya—tepat setelah umat selesai menjalankan ibadah paling sakral dalam kalender iman Kristiani.
“Kami baru saja berdoa… tapi tiba-tiba semua dihentikan,” ujar seorang jemaat.
Peristiwa ini bermula dari kedatangan sejumlah warga yang menyampaikan penolakan terhadap aktivitas rumah doa tersebut. Situasi sempat memanas sebelum aparat gabungan turun ke lokasi.
Namun yang menjadi sorotan tajam: keputusan yang diambil justru menghentikan ibadah.
Alasan resmi menyebutkan bangunan belum memiliki Persetujuan Bangunan Gedung (PBG). Tetapi di balik itu, muncul fakta lain—proses pengurusan izin disebut sudah berjalan sejak 2023 tanpa hasil pasti.
Hal ini memicu kritik luas.
Mengapa proses izin bisa berlarut, sementara penutupan berlangsung begitu cepat?
Ketua Yayasan POUK Tesalonika, Oktavianto Pardede, menyatakan pihaknya telah mengikuti prosedur dan menjaga kondusivitas lingkungan.
“Kami tidak melanggar ketertiban. Tapi kenyataannya, kami tetap dihentikan,” katanya.
Di sisi lain, sebagian warga tetap mendesak agar rumah doa tersebut ditutup permanen. Tekanan sosial pun tak bisa diabaikan dalam peristiwa ini.
Satpol PP menyatakan tindakan dilakukan sesuai aturan. Namun publik mulai mempertanyakan: apakah aturan berjalan netral, atau justru menjadi alat legitimasi dalam situasi yang penuh tekanan?
LBH Gekira menyatakan siap mendampingi jemaat dan menilai negara harus hadir sebagai pelindung, bukan sekadar penegak prosedur.
“Kalau ibadah bisa berhenti seperti ini, maka rasa aman itu ikut hilang,” tegas mereka.
Kini, menjelang Paskah, jemaat berada dalam ketidakpastian.
Tak ada kepastian tempat.
Tak ada kepastian waktu.
Hanya iman yang tetap berdiri… di tengah keterbatasan.
Peristiwa ini menjadi gambaran nyata bahwa di balik perayaan keagamaan, masih ada dinamika sosial dan birokrasi yang belum sepenuhnya berpihak pada rasa keadilan.
Dan di Teluknaga, Jumat Agung tahun ini meninggalkan satu hal yang sulit dilupakan: doa terakhir… sebelum segel ditempel.
Sumber: Yusd
Jurnalis: Romo Kefas
Editor: Tim Redaksi
