Jakarta, 7 April 2026 — Tidak semua pertemuan pejabat menghasilkan keputusan besar. Namun ada pertemuan yang justru melahirkan kegelisahan—dan itu yang terjadi saat Ketua Umum PB FORMULA, Tuan Guru Dedi Hermanto, bertemu dengan Yusril Ihza Mahendra di kantor Kemenko Kumham Imipas.
Selama hampir tiga jam, ruang pertemuan itu tidak hanya diisi pembicaraan formal. Ia berubah menjadi ruang kejujuran—tempat di mana kritik terhadap kondisi bangsa disampaikan tanpa banyak basa-basi.
Dan dari sanalah satu pesan kuat muncul: Indonesia sedang tidak baik-baik saja dalam hal kepemimpinan.
Pertemuan yang Berubah Arah
Awalnya, agenda berjalan seperti biasa—membahas peluang kerja sama antara PB FORMULA dan pemerintah, khususnya dalam program pembinaan karakter aparatur negara.
Namun arah pembicaraan perlahan berubah.
Bukan lagi soal program. Bukan sekadar tentang birokrasi.
Yang dibicarakan justru sesuatu yang lebih mendasar: hilangnya kejujuran dalam kepemimpinan.
Tuan Guru Dedi Hermanto menyampaikan pandangannya dengan nada tegas, tanpa mencoba meredam makna.
“Negara ini tidak kekurangan orang hebat. Tapi kita kekurangan pemimpin yang jujur dan berani.”
Kalimat itu tidak hanya terdengar sebagai kritik—tetapi sebagai peringatan.
Kritik yang Menyentuh Akar
Dalam pandangannya, masalah bangsa bukan lagi sekadar soal sistem atau kebijakan. Masalahnya ada pada karakter.
Ia menyoroti fenomena di mana pembangunan berjalan cepat, tetapi tidak diiringi dengan kualitas moral yang sama.
“Kalau mental pemimpinnya rusak, pembangunan hanya akan menjadi angka—bukan kesejahteraan.”
Pernyataan tersebut menegaskan satu hal: krisis yang terjadi bukan hanya administratif, melainkan moral.
Dan krisis moral, menurutnya, jauh lebih berbahaya karena tidak selalu terlihat—tetapi dampaknya terasa dalam jangka panjang.
Respons Tenang dari Seorang Negarawan
Di tengah kritik yang cukup tajam itu, Yusril Ihza Mahendra tidak menunjukkan reaksi defensif. Ia memilih merespons dengan sikap tenang—bahkan cenderung reflektif.
Sesekali, ia membagikan pengalaman politiknya yang penuh dinamika. Sebuah pengakuan halus bahwa perjalanan dalam dunia kekuasaan tidak selalu berjalan sesuai harapan.
Namun satu sikap yang ia tekankan adalah penerimaan.
“Semua ada jalannya. Saya serahkan kepada Allah,” ujarnya singkat.
Kalimat itu sederhana, tetapi menunjukkan posisi seorang tokoh yang telah melewati banyak fase—dan tidak lagi terjebak dalam ambisi semata.
Spiritualitas Masuk ke Ruang Negara
Menariknya, pertemuan ini juga melahirkan gagasan yang tidak biasa: membawa pendekatan spiritual ke dalam pembinaan aparatur negara.
PB FORMULA menawarkan program pelatihan yang tidak hanya fokus pada kompetensi, tetapi juga pada pembentukan karakter dan integritas.
Di tengah maraknya isu penyalahgunaan kekuasaan, gagasan ini menjadi relevan—meski sekaligus menimbulkan pertanyaan: apakah perubahan moral bisa dibangun melalui program, atau harus lahir dari kesadaran individu?
Pertanyaan Politik yang Menggantung
Menjelang akhir pertemuan, suasana kembali mencair. Namun satu pertanyaan muncul—dan langsung menarik perhatian:
Apakah Yusril akan kembali maju dalam kontestasi politik 2029?
Jawaban yang diberikan tidak gamblang.
“Tidak ada komentar.”
Senyum yang menyertai jawaban itu justru meninggalkan ruang tafsir yang luas. Dalam politik, diam sering kali lebih bermakna daripada pernyataan panjang.
Sebuah Sinyal yang Tidak Bisa Diabaikan
Pertemuan ini mungkin tidak menghasilkan keputusan konkret yang bisa langsung dirasakan publik.
Namun ia mengirimkan sinyal yang kuat.
Bahwa di balik gemuruh pembangunan dan hiruk-pikuk politik, ada persoalan yang belum selesai—bahkan mungkin semakin dalam: krisis kejujuran dalam kepemimpinan.
Dan jika itu benar, maka tantangan terbesar bangsa ini bukan hanya memilih pemimpin, tetapi memastikan bahwa yang terpilih benar-benar memiliki keberanian untuk jujur—bahkan ketika itu tidak menguntungkan.
Sumber: Zoel
Jurnalis: Romo Kefas
Editor: TIM Redaksi
