Pasangkayu, 31 Maret 2026 – Situasi tak bisa lagi dianggap biasa. Ancaman malaria di wilayah Martajaya dan Desa Ako mulai memicu respons cepat dari Dinas Kesehatan Kabupaten Pasangkayu.
Tanpa menunggu kondisi memburuk, tim gabungan dari Dinas Kesehatan dan Puskesmas Pasangkayu 2 langsung diterjunkan ke lapangan. Targetnya jelas: menghentikan potensi penyebaran sebelum berubah menjadi wabah.
Dipimpin dr. Imran selaku Kepala Bidang P2M, tim menyisir Lingkungan Lumbung Merta hingga Desa Ako, melakukan penyelidikan epidemiologi untuk mengungkap pola penularan yang mulai terdeteksi.
Gerak Cepat di Titik Rawan
Bukan hanya memeriksa warga, tim juga melakukan pemetaan kondisi lingkungan yang berpotensi menjadi sarang nyamuk penyebab malaria.
Edukasi diberikan secara langsung—dari cara menjaga kebersihan hingga langkah sederhana melindungi diri dari gigitan nyamuk yang berbahaya.
Kelambu Dibagikan, Warga Diminta Siaga
Dalam aksi nyata di lapangan, warga menerima bantuan kelambu anti nyamuk. Langkah ini dinilai sebagai perlindungan paling efektif untuk mencegah gigitan nyamuk Anopheles yang aktif di malam hari.
Pesan petugas jelas:
tidur tanpa kelambu di daerah rawan malaria sama dengan membuka risiko penyakit.
Gejala Kecil, Dampak Bisa Besar
Tim kesehatan mengingatkan, malaria sering diawali gejala yang dianggap ringan—demam, menggigil, sakit kepala.
Namun di balik itu, penyakit ini bisa berkembang cepat dan berbahaya jika tidak segera ditangani.
Masyarakat diminta untuk tidak menunda pemeriksaan, karena kecepatan penanganan menjadi penentu keselamatan.
Perbatasan Jadi “Jalur Bebas” Penyakit
Wilayah Pasangkayu yang berbatasan langsung dengan Sulawesi Tengah menjadi tantangan tersendiri. Mobilitas warga yang tinggi membuat penyebaran penyakit lebih sulit dikendalikan.
Karena itu, koordinasi lintas wilayah menjadi langkah penting agar penanganan tidak berjalan sendiri-sendiri.
Satu Sembuh, Harapan Tumbuh
Di tengah situasi waspada, kabar baik datang dari Desa Ako. Supomo, pasien malaria yang sempat dirawat selama sepekan, kini telah pulih dan kembali ke rumah.
Rasa syukur pun disampaikannya kepada tenaga kesehatan dan pemerintah yang telah sigap membantu.
Jangan Tunggu Jadi Wabah
Kasus ini menjadi peringatan keras bahwa malaria masih nyata dan bisa mengancam kapan saja, terutama di wilayah yang memiliki risiko tinggi.
Langkah cepat sudah dilakukan. Kini, bola ada di tangan masyarakat.
Karena melawan malaria bukan hanya tugas tenaga kesehatan—tetapi tanggung jawab bersama. Jika lengah, ancaman bisa datang lebih cepat dari yang diperkirakan. (EL)
