JAKARTA — Isu kesehatan keuangan PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) kembali menjadi sorotan setelah sejumlah angka penting dalam laporan kinerja memunculkan tanda tanya besar di tengah masyarakat.
Ketua Umum Perempuan Tangguh Nusantara (PTN), Dra. Kasihhati, menilai kondisi ini sebagai “alarm bahaya” yang tidak boleh diabaikan, terutama di tengah ketidakpastian global dan ancaman krisis energi.
“Kita tidak bisa menunggu sampai semuanya menjadi masalah besar. Indikasi ini sudah cukup untuk menjadi peringatan,” ujarnya di Jakarta, Jumat (27/3/2026).
Ia menyoroti lonjakan utang PLN yang mencapai Rp711,2 triliun pada 2024, disertai dengan penurunan laba bersih yang dinilai sebagai kombinasi yang perlu diwaspadai.
“Ketika utang meningkat dan keuntungan menurun, itu harus menjadi perhatian serius. Jangan dianggap sebagai hal biasa,” tegasnya.
Selain itu, kemunculan angka Rp20,9 triliun dalam laporan keuangan juga dinilai perlu dijelaskan secara transparan agar tidak menimbulkan kecurigaan publik.
“Angka sebesar itu tidak boleh dibiarkan menggantung tanpa kejelasan. Ini menyangkut kepercayaan masyarakat,” katanya.
Kasihhati pun mendesak pemerintah untuk segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pengelolaan PLN, termasuk memastikan bahwa seluruh kebijakan yang diambil tidak merugikan rakyat.
“PLN adalah tulang punggung listrik nasional. Jika ada masalah, dampaknya akan dirasakan oleh semua lapisan masyarakat,” ujarnya.
Hingga berita ini diturunkan, pihak PLN maupun kementerian terkait belum memberikan klarifikasi resmi atas isu yang berkembang.
Situasi ini semakin menegaskan pentingnya transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan BUMN strategis, terutama di sektor energi yang menyangkut hajat hidup orang banyak.
Sumber: Syamsul Bahri (Ketua GWI Banten)
Narasumber: Dra. Kasihhati (Ketua Umum PTN)
Jurnalis: Romo Kefas (Pewarna)**
