CIMAHI, 3 April 2026 — Menjelang Jumat Agung dan Paskah 2026, Ketua Umum Majelis Pusat Gereja Gerakan Pentakosta (GGP), Pdt. Dicky Suwarta, M.Th atau yang akrab disapa Dicky Yo, mengingatkan bahwa gereja perlu kembali pada kedalaman makna iman, bukan hanya pada rangkaian perayaan tahunan.
Dalam wawancara bersama tim media di Cimahi, Jumat (3/4/2026), Dicky Yo menyoroti kecenderungan umat yang aktif secara kegiatan, namun berisiko melupakan esensi dari iman itu sendiri.
“Kita bisa sangat sibuk dengan kegiatan rohani, tetapi tanpa sadar kehilangan makna terdalamnya. Salib bukan hanya untuk dikenang, tetapi untuk dihidupi,” ujarnya.
Menurutnya, Jumat Agung bukan sekadar peristiwa historis, melainkan gambaran nyata tentang kasih Allah yang hadir dan bekerja dalam kehidupan manusia.
“Allah tidak menyelamatkan dari jauh. Dia hadir, mengambil bagian, dan menanggung. Di situlah kasih itu menjadi nyata,” katanya.
Di tengah kesibukannya memimpin organisasi gereja nasional sekaligus menyelesaikan disertasi, Dicky Yo menilai bahwa pemahaman iman yang sejati justru membawa seseorang kembali kepada kesederhanaan yang esensial.
“Semakin kita belajar, seharusnya semakin kita kembali ke inti. Dan inti itu adalah salib,” ungkapnya.
Memasuki Paskah, ia menekankan bahwa kebangkitan Kristus harus dimaknai sebagai awal yang baru dalam kehidupan setiap orang.
“Kebangkitan bukan hanya peristiwa iman, tetapi undangan untuk hidup yang diperbarui. Selalu ada harapan, selalu ada kesempatan untuk melangkah lagi,” ujarnya.
Dalam konteks internal Gereja Gerakan Pentakosta, Dicky Yo menyampaikan bahwa saat ini gereja tengah memasuki fase pemulihan yang perlu dijaga bersama.
“Ada langkah-langkah untuk kembali berjalan bersama. Ini proses yang harus dijaga dengan kerendahan hati dan kesediaan untuk saling menerima,” katanya.
Ia juga mengajak seluruh gembala dan pelayan Tuhan untuk mengambil bagian dalam agenda besar organisasi:
Sidang Raya XVI GGP
20–23 Oktober 2026 di Banten
Menurutnya, momen tersebut menjadi bagian penting dalam perjalanan gereja ke depan.
Menutup pernyataannya, Dicky Yo menekankan bahwa gereja perlu melangkah dengan arah yang jelas dan bersama-sama.
Ia menyebut hal tersebut sebagai bagian dari gerak dalam visi Threefold.
“Gereja dipanggil untuk berjalan bersama, memiliki arah, dan membawa dampak. Itu yang harus kita jaga ke depan,” ujarnya.
Di akhir wawancara, ia menyampaikan pesan sederhana yang merangkum seluruh refleksinya:
“Selamat Paskah. Jangan hanya memperingati—hiduplah di dalamnya.”
