50 Profesor Deklarasikan Gagasan 500 Pusat Pendidikan Berasrama Nasional, Al-Zaytun Dorong Transformasi Pendidikan Indonesia
Indramayu, 2 Juni 2026 – Sebanyak 50 profesor dan cendekiawan dari berbagai disiplin ilmu berkumpul di Ma’had Al-Zaytun, Indramayu, Jawa Barat, untuk merumuskan gagasan besar pembangunan 500 pusat pendidikan berasrama terintegrasi di seluruh Indonesia. Gagasan tersebut diproyeksikan menjadi salah satu model percepatan pembangunan sumber daya manusia menuju Indonesia Emas 2045 dan peradaban Indonesia abad ke-22.
Forum akademik yang digelar bertepatan dengan peringatan Hari Lahir Pancasila itu menghadirkan para akademisi, guru besar, pakar hukum, ekonomi, pendidikan, teknologi, pertanian, hingga pengembangan sumber daya manusia. Mereka memberikan pandangan strategis mengenai arah pembangunan pendidikan nasional yang dinilai harus mampu menjawab tantangan era kecerdasan buatan, revolusi industri, dan kompetisi global.
Sejumlah profesor yang terlibat dalam forum tersebut antara lain Prof. Yohanes Surya, M.Sc., Ph.D., Prof. Dr. Imam Suprayogo, M.Pd., Prof. Dr. K.H. Imron Arifin, M.Pd., Prof. Dr. Ciek Julyati Hasyim, M.M., M.Si., Prof. Dr. Supriyoko, M.Pd., Prof. Dr. Sutrisna Wibawa, M.Pd., Prof. Dr. Sri Widiyantoro, M.Sc., Ph.D., serta Prof. Dr. I Gde Pantja Astawa, S.H., M.H.
Selain itu hadir pula Prof. Dr. Yeni Herdiyeni, S.Si., M.Kom., Prof. Dr. Hamja, S.H., M.H., Prof. Dr. Dinn Wahyudin, M.A., Prof. Dr. H. Sugianto, S.H., M.H., Prof. Dr. Hardinsyah, M.S., Ph.D., Prof. Dr. Akhiruddin Maddu, M.Si., Prof. Dr. H. Aswandi Idris, M.Si., dan Prof. Dr. Mukti Fajar Nur Dewata, S.H., M.H.
Dari kalangan akademisi senior lainnya turut berpartisipasi Prof. Dr. Mustanir, M.Sc., Prof. Dr. Ir. H. Abdullah Puteh, M.Si., Prof. Dr. Momon Sidik Imanudin, S.P., M.Sc., Prof. Dr. Paschalis Maria Laksono, M.A., Prof. Ali Zum Mashar, Prof. Dr. Ir. H. Ahmad Faqih, S.P., M.M., IPU., CIRR., Prof. Dr. Giyatmi, M.Si., dan Prof. Dr. Ir. Imam Rahayu Hidayati Soesanto, M.S.
Sementara dari bidang ekonomi, manajemen, sosial, dan pembangunan nasional hadir Prof. Dr. Buyung Sarita, S.E., M.Si., Ph.D., Prof. Dr. H.A. Jajang W. Mahri, M.Si., Prof. Dr. Tulus Suryanto, S.E., M.M., Akt., CA., Prof. Dr. Ir. Hari Eko Irianto, Prof. Setyo Tri Wahyudi, S.E., M.Ec., Ph.D., Prof. Mahyuni, M.A., Ph.D., serta Prof. Dr. Hanif Fakhrurroja, S.Si., M.T.
Dalam forum tersebut, para akademisi menilai Indonesia memerlukan lompatan besar dalam sektor pendidikan. Model yang diusulkan adalah pembangunan pusat pendidikan berasrama yang mengintegrasikan sekolah, perguruan tinggi, politeknik, pusat riset, pelatihan vokasi, serta unit-unit produktif yang terhubung langsung dengan kebutuhan dunia usaha dan industri.
Penggagas kegiatan, Syaykh Abdussalam Rasyidi Panji Gumilang, menegaskan bahwa pembangunan manusia harus menjadi agenda utama bangsa. Menurutnya, Indonesia membutuhkan sistem pendidikan yang tidak hanya menghasilkan lulusan akademik, tetapi juga melahirkan generasi yang berkarakter, produktif, berintegritas, dan mampu bersaing secara global.
Konsep yang ditawarkan menggunakan pendekatan L-STEAMS (Law, Science, Technology, Engineering, Art, Mathematics and Spiritual). Melalui pendekatan tersebut, pendidikan diharapkan tidak hanya mendorong kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga tetap berpijak pada hukum, etika, nilai kebangsaan, dan spiritualitas.
Para peserta simposium menilai bahwa masa depan Indonesia sangat ditentukan oleh kualitas sumber daya manusia. Oleh karena itu, investasi terbesar bangsa tidak boleh hanya terfokus pada pembangunan fisik, melainkan juga pada pembangunan ekosistem pendidikan yang mampu mencetak inovator, peneliti, profesional, dan pemimpin masa depan.
Hasil simposium tersebut direncanakan akan dirumuskan menjadi dokumen strategis dan memorandum kebangsaan yang dapat menjadi bahan masukan bagi pemerintah dalam menyusun kebijakan pendidikan jangka panjang.
Penyampaian gagasan pada momentum Hari Lahir Pancasila dinilai memiliki makna simbolis yang kuat, yakni meneguhkan kembali arah pembangunan bangsa berdasarkan nilai-nilai Ketuhanan, Kemanusiaan, Persatuan, Kerakyatan, dan Keadilan Sosial sebagaimana terkandung dalam Pancasila.
Jurnalis: Tim Redaksi
Editor: Tim Redaksi


