Pdt. Ricardo R. J. Palijama: Hari Kebangkitan Nasional Harus Menjadi Momentum Gereja Menyalakan Harapan bagi Bangsa
Bandung, 20 Mei 2026 — Memperingati Hari Kebangkitan Nasional 2026, Ketua Sinode Badan Musyawarah Gereja Methodist Injili, Pdt. Ricardo R. J. Palijama, mengajak seluruh elemen gereja dan masyarakat untuk menjadikan momentum kebangkitan nasional sebagai panggilan membangun persatuan, pengharapan, dan kepedulian terhadap kehidupan bangsa di tengah tantangan zaman modern.
Pesan tersebut disampaikan Pdt. Ricardo saat diwawancarai awak media pada Rabu pagi (20/5/2026).
Dalam wawancara tersebut, Pdt. Ricardo menilai bahwa Hari Kebangkitan Nasional tidak boleh hanya dipahami sebagai bagian dari sejarah perjuangan bangsa, tetapi harus menjadi momentum untuk membangkitkan kembali semangat persaudaraan, moralitas, dan kehidupan rohani masyarakat Indonesia.
Menurutnya, bangsa Indonesia saat ini sedang menghadapi tantangan yang tidak ringan, mulai dari melemahnya rasa persatuan, meningkatnya individualisme, hingga pengaruh perkembangan digital yang memengaruhi kehidupan sosial masyarakat.
“Bangsa ini membutuhkan kebangkitan yang bukan hanya bersifat lahiriah, tetapi juga kebangkitan hati, moral, dan kepedulian terhadap sesama,” ujarnya kepada awak media.
Sebagai Ketua Sinode Badan Musyawarah Gereja Methodist Injili, Pdt. Ricardo menegaskan bahwa gereja memiliki tanggung jawab besar untuk ikut menjaga arah kehidupan bangsa melalui pelayanan yang menghadirkan damai sejahtera, kasih, dan pengharapan.
Menurutnya, gereja tidak boleh hanya hadir dalam kegiatan seremonial, tetapi harus menjadi terang di tengah masyarakat yang sedang menghadapi berbagai persoalan kehidupan.
“Gereja dipanggil bukan hanya untuk berkhotbah di mimbar, tetapi juga menghadirkan kasih Tuhan secara nyata di tengah kehidupan masyarakat,” tegasnya.
Ia menjelaskan bahwa dalam pemahaman teologi Kristen, kebangkitan sejati dimulai dari pembaruan hidup manusia di hadapan Tuhan.
Menurutnya, bangsa akan menjadi kuat apabila masyarakatnya hidup dalam kasih, kejujuran, dan rasa tanggung jawab terhadap sesama.
“Kebangkitan bangsa dimulai ketika manusia kembali hidup dalam nilai kebenaran, kasih, dan takut akan Tuhan,” katanya.
Pdt. Ricardo juga menyoroti pentingnya membangun generasi muda yang memiliki karakter dan kehidupan spiritual yang kuat di tengah perkembangan zaman yang terus berubah.
Menurutnya, generasi muda saat ini menghadapi tantangan besar akibat pengaruh budaya instan, media sosial, dan krisis keteladanan moral.
Karena itu, ia mengajak keluarga, gereja, dan dunia pendidikan untuk bersama-sama membangun generasi muda yang memiliki integritas dan semangat menjaga persatuan bangsa.
“Generasi muda jangan kehilangan identitas dan nilai imannya. Mereka harus menjadi generasi yang membawa damai dan harapan bagi masa depan bangsa,” ungkapnya.
Selain itu, Pdt. Ricardo mengingatkan pentingnya menjaga persatuan bangsa di tengah keberagaman Indonesia.
Menurutnya, semangat Hari Kebangkitan Nasional harus menjadi pengingat bahwa Indonesia dibangun di atas semangat gotong royong, perjuangan bersama, dan rasa saling menghormati.
“Perbedaan jangan dijadikan alasan untuk saling membenci. Justru keberagaman adalah kekuatan bangsa yang harus dijaga bersama,” ujarnya.
Di akhir wawancara, Pdt. Ricardo R. J. Palijama mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk menjadikan Hari Kebangkitan Nasional 2026 sebagai momentum memperkuat kasih, kepedulian sosial, dan semangat persatuan demi masa depan bangsa yang lebih baik.
“Bangsa yang kuat lahir dari manusia-manusia yang hidup dalam kasih, persaudaraan, dan takut akan Tuhan,” pungkasnya.
(Jurnalis: Tim)


